suarasurabaya.net

Polda Jatim Gagalkan Penyelundupan 10.278 Benih Lobster ke Vietnam
Laporan Anggi Widya Permani | Senin, 02 Desember 2019 | 16:44 WIB

Konferensi pers Polda Jatim usai menggagalkan penyelundupan 10.278 ekor benih lobster, Senin (2/12/2019). Foto: Anggi suarasurabaya.id
suarasurabaya.net| Polda Jatim menggagalkan penyelundupan 10.278 ekor benih lobster, Senin (2/12/2019). Puluhan ribu benih lobster yang diketahui bernilai Rp1,5 miliar itu, akan dikirim ke Vietnam melalui Singapura.

Kombes Pol Gidion Arif Setiawan Dirreskrimsus Polda Jatim mengatakan, dari kasus itu pihaknya menangkap tiga tersangka penyelundupan. Ketiganya masing-masing berinisial WWN, AGT, dan WJL. Dua di antaranya, merupakan residivis kasus yang sama.

Pengungkapan itu bermula saat petugas mencurigai adanya aktivitas penjualan baby lobster dari Tulungagung ke wilayah Bogor, Jawa Barat. Setelah diselidiki, polisi mendapati kendaraan yang bermuatan puluhan ribu benih lobster berbagai jenis di Jalan Tol Madiun-Ngawi KM 579.

"Secara rinci, ada 7.300 ekor benih lobster jenis pasir dan 2.978 ekor benih lobster jenis mutiara. Di luar negeri, benih ini dihargai sekitar Rp200.000 per ekornya. Jadi total perkiraan semuanya bernilai Rp1,5 miliar," kata Gidion.

Setelah pengungkapan itu, lanjut dia, penyidik melakukan pengembangan di rumah tersangka. Kemudian ditemukan sebuah gudang yang selama ini menjadi tempat penyimpanan kolam penangkaran sementara. Dalam sebulan, para pelaku bisa melakukan 4 kali pengiriman ke luar negeri.

Sementara itu, Wiwit Supriyono Kasi Pengawasan dan Pengendalian Balai KIPM Surabaya mengatakan, perbuatan ketiga tersangka itu telah melanggar Peraturan Menteri (Permen) Kelautan No. 56 Tahun 2016.

Dalam permen itu disebutkan bahwa, pelarangan penangkapan komoditi lobster, kepiting, dan rajungan berbagai jenis, yang ukurannya di bawah 200 gram. Ini juga diatur dalam UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

"Benur dengan ukuran dibawah 200 gram dilarang oleh undang-undang. Ya biasanya, benih-benih ini dibudidayakan di Vietnam dengan jalur distribusi melalui Singapore terlebih dahulu," kata dia.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 86 ayat 1 jo pasal 12 ayat 1 dan/atau Pasal 92 jo Pasal 26 ayat 1 UU No 45 tahun 2009 tentang Perikanan. Dengan ancaman pidana 8 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar. (ang/ipg)
top