suarasurabaya.net

Kejuaraan Atletik Down Syndrome Unesa Wadah Berkumpul Atlet Disabilitas Intelektual
Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 15 Desember 2019 | 11:15 WIB

Kejuaraan atletik down syndrome (DS) di Gelanggang Pemuda, Fakultas Ilmu Olahraga, Unesa pada Minggu (15/12/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kejuaraan atletik down syndrome (DS) di Gelanggang Pemuda, Fakultas Ilmu Olahraga, Unesa pada Minggu (15/12/2019).

Cahyo Kartiko Ketua Pelaksana Kejuaraan Atletik Down Syndrome Unesa mengatakan, selain sebagai rangkaian dari peringatan Dies Natalis Unesa ke-55, kompetisi ini diwujudkan sebagai wadah berkumpulnya para atlet disabilitas intelektual di Jawa Timur.

"Sebenarnya kami memberikan kesempatan pada yang tidak memiliki kesempatan. Selama ini, anak-anak down syndrome kan jarang sekali ada event kegiatan yang mempertemukan mereka. Acara ini juga didukung dengan Solna, Special Olympics Indoneisa. Ini wadahnya olahraga anak-anak disabilitas intelektual. Kita fokuskan ke sana. Dengan sendirinya, mereka bisa saling bertemu satu sama lainnya. Minimal saling besosialisasi, punya kepercayaan diri, selama ini kan event-nya jarang," ujar Cahyo pada Minggu (15/12/2019) pagi.


Cabang olahraga bocce putera. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Beberapa cabang olahraga dilombakan di kompetisi ini, di antaranya lomba lari 25 meter putera dan 25 meter puteri, lompat jauh tanpa awalan putera dan puteri, fotogenik putera dan puteri, serta bocce putera dan puteri. Total peserta yang terdaftar, ada 85 atlet yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur.

Bukan hal mudah menggelar kejuaraan semacam ini. Cahyo mengatakan, perlu kesabaran dari penyelenggara terutama volunter untuk mendampingi satu per satu atlet down syndrome.

"Perlu nge-briefing mereka, anak-anak volunter. Mereka diskusi bersama, gimana mempersiapkan hal ini agar sukses. Fokus kami memang briefing volunter. Karena mereka yang dampingi para atlet. Kalau (atlet, red) tidak diawasi bisa lari-lari," jelasnya.

Beberapa momen juga sempat tercipta, salah satunya peserta yang lari keluar venue dan naik ke tangga, dan juga peserta yang tiba-tiba tidak mau mengikuti kompetisi. Namun, kata Cahyo hal itu bisa diatasi dengan pendekatan yang benar dari para volunter.

"Kita ajarkan pada volunter. Gimana cara merayu mereka. Intinya simpel, untuk bisa merayu anak-anak itu, harus membuka diri dulu. Tidak boleh ada di hati itu ada batasan. Harus terbuka semua, baru bisa welcome. Mereka itu sama, gak ada bedanya sama kita. Akhirnya berhasil. Kalau masih ada batas, mereka gak akan mau," katanya. (bas/iss/rst)
top