suarasurabaya.net

Anak Autis Juga Bisa Bekerja di Sektor Publik
Laporan Agung Hari Baskoro | Sabtu, 04 Januari 2020 | 15:10 WIB

Margaretha Dosen Psikologi Unair. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Anak dengan autisme juga bisa bekerja di sektor publik, sama seperti anak normal lainnya. Margaretha Dosen Psikologi Unair menegaskan, komunikasi yang menjadi hambatan utama anak autis bisa diatasi jika mendapat terapi sejak dini.

Margaretha menjelaskan, anak autis sebagian besar adalah pembelajar visual. Mereka akan lebih mudah memahami informasi jika bentuknya gambar. Lebih bagus, jika visual tersebut disertai oleh audio yang memadai.

"Kemungkinan kalau dia minim stimulus (visual dan audio, red), iya. Dia jadi gak bisa berkomunikasi. Hambatan utama anak autis adalah komunikasi," ujarnya pada Sabtu (4/1/2020).

Hal inilah yang sering disalahpahami masyarakat. Mereka cenderung langsung menganggap anak autis tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan. Padahal, jika mendapatkan terapi sejak dini, mereka bahkan bisa mencapai level tertinggi yaitu menjalin dialog dengan orang lain.

"Baerarti dia lebih punya kemampuan komunikasi. Artinya dia punya bekal ke sekolah umum. Dia bisa belajar dengan anak normal lainnya. Di SD, inklusi kita sebutnya. Berarti dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, bekerja," tegasnya.

Periode belajar berkomunikasi dan berbahasa memiliki jangka waktu. Periode emas sendiri ada pada umur 2 hingga 6 tahun. Untuk anak autis, dengan terapi dini, mereka sudah bisa membelajari kosakata pada umur 18 bulan. Melalui rangkain terapi ini, anak autis bisa menjadi manusia fungsional dan bisa bersaing dengan anak normal lainnya.

"Istilahnya menjadi manusia fungsional. Gak harus jadi cacat. Tapi kalau dia anak dengan autisme tidak mendapat intensive threatment, komunikasi yang terjadi, dia tidak bisa komunikasi. Kalau gak bisa belajar, jadi cacat. Memanusiakan manusia dengan autisme. Karena ketika mereka berkomunikasi, belajar, memahami orang, bisa berinteraksi sosial. Tidak perlu terpinggirkan, tidak perlu jadi pesakitan, mereka bisa terlibat dalam masyarakat," tegasnya.

Sebagi informasi, di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun; sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011, 6 di antara 1000 orang mengidap autisme. (bas/ang/iss)
top