suarasurabaya.net

Muhammadiyah Ingin Jadikan Sepak Bola sebagai Media Perdamaian
Laporan Farid Kusuma | Jumat, 16 Agustus 2019 | 20:07 WIB

Haedar Nasir Ketum PP Muhammadiyah (tengah berkopiah) dan KH Zahrul Azhar Asumta Presiden Football For Peace Interfaith Indonesia (berkopiah kedua dari kiri), foto bersama usai penandatanganan kerja sama dengan Uni Papua, Jumat (16/8/2019), di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Sepak bola adalah salah satu olah raga yang bisa menjadi wadah dalam membangun kemajemukan bangsa. Karena, pertandingan sepak bola membuat masyarakat mudah berbaur dan berinteraksi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, saat melakukan kesepakatan bersama dengan Perkumpulan Sepak Bola Uni Papua, Komunitas Sepak Bola Sosial, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/8/2019).

Haedar menilai, kejadian belakangan terkait sepak bola di Tanah Air menjadi media vandalisme dan menyeramkan. Karena itu, PP Muhammadiyah berharap kerja sama dengan Uni Papua bisa menjadikan sepak bola sebagai media perdamaian, relasi sosial yang inklusif.

"Kerja sama ini bisa membangun karakter yang cinta damai serta mendorong kemajuan dan keberagaman bangsa," ujarnya.

Haedar menambahkan, Muhammadiyah sangat terbuka dengan kerja sama ini, karena lembaganya berbuat tidak kenal lelah lewat karya nyata yang konkret. Terlebih, Muhammadiyah memiliki organisasi Hubbul Wathon, organisasi sepak bola Muhammadiyah yang telah berdiri lebih dari setengah abad.

CEO Uni Papua FC, Harry Widjadja mengatakan, kesepakatan bersama ini adalah fondasi untuk bersama-sama membangun karakter generasi muda, khususnya sepakbola.

"Kita ingin sepak bola sebagai wadah kedamaian dan karakter fair play," kata Harry.

Sementara itu, Presiden Football For Peace Interfaith Indonesia, KH Zahrul Azhar Asumta menegaskan, sepak bola menjadi media sangat tepat untuk menjaga persatuan.

Sepak bola bisa menularkan virus perdamaian, antidiskriminasi, serta menjaga kekompakan dalam membangun bersama bangsa. Sepak bola adalah cara cerdas yang bisa dilakukan untuk menyatukan bangsa.

"Sepak bola bisa menjadi media menanamkan nilai-nilai kebangsaan demi mewujudkan Indonesia aman dan damai. PP Muhammadiyah dan Uni Papua FC bisa ikut serta dalam pertandingan sepak bola dan menjadikan Pancasila sebagai keajaiban dan contoh dunia," kata Gus Hans, sapaan akrab KH Zahrul.

Dalam acara itu juga dilakukan pertukaran jersey atau seragam tim antara PP Muhammadiyah dan Uni Papua FC. Jersey Uni Papua FC dengan nomor 17 sebagai simbol kemerdekaan RI dan jersey Hubbul Wathon nomor 5 sebagai simbol Pancasila. (rid/tin/iss)
top