suarasurabaya.net

Romy Arnold, WNI yang Menjadi Pelatih Sekaligus Pendiri Akademi Badminton di Malaysia
Laporan Agustina Suminar | Selasa, 26 November 2019 | 16:58 WIB

Romy Arnold Walalangi pendiri Romy Badminton Tim (RBT) Malaysia, saat berkunjung ke Kantor Suara Surabaya Media, Senin (25/11/2019). Foto: Tina suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Dedikasi penuh pada dunia olahraga bulutangkis, membuat Romy Arnold Walalangi menciptakan akademi junior bulutangkis di Negeri Jiran, Malaysia.

Berawal dari umur 13 tahun, Romy tergabung dalam klub PB Suryanaga. Sampai pada tahun 1999, ia bernaung di klub badminton yang ada di Surabaya.

Romy kemudian tidak hanya berhenti sebagai pemain saja. Ia kemudian juga melebarkan sayapnya untuk menjadi pelatih. Ia berhasil mendirikan Romy Badminton Tim (RBT) Malaysia, akademi yang mengajarkan atlet bulutangkis di tingkat junior.

Saat mengunjungi Suara Surabaya pada Senin (25/11/2019) kemarin, ia bercerita tentang perjalanannya dari awal karier hingga dapat menembus menjadi pelatih di Malaysia.

Pria berusia 42 tahun itu mengikuti seleksi untuk menjadi pelatih, yang digelar oleh Rexy Mainaki pada tahun 2011. Saat itu, Rexy membutuhkan 8 orang pelatih asal Indonesia, yang akan dibawa ke Malaysia. Akhirnya, ia tertarik untuk mengikuti seleksi tersebut.

Menurut Romy, kelebihan pembinaan atlet badminton Malaysia daripada Indonesia salah satunya adalah, mereka telah mempersiapkan atlet sejak usia dini. Persiapan itu, lanjutnya, lebih matang daripada pembinaan yang ada di Indonesia

"Indonesia tidak punya pelatnas Junior yang dibutuhkan. Supaya pemain sudah siap, saat menjadi player senior. Berbeda di Malaysia yang mendidik sejak junior. Saat ini Malaysia pemain junior lebih baik ketimbang senior. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang lebih unggul pemain seniornya," ujarnya.

Meski begitu, skema latihan di Indonesia jauh lebih lama dibanding negara lain. Seharusnya, dengan skema latihan yang jauh lebih kuat, bulutangkis Indonesia punya kemampuan mengalahkan semua lawannya di setiap turnamen, paparnya.

"Banyak coach dari Indonesia yang ada di Malaysia. Pelatih memakai fisik kuat membuat pemain Malaysia kewalahan. Biasanya di Malaysia hanya 2 jam latihan tapi Indonesia harus minim 3 jam latihan. Karena di Malaysia, prioritas utamanya masih sekolah," jelas Romy.

Sementara saat disinggung soal kekuatan skuat Malaysia dan skuat Indonesia di ajang SEA Games 2019 di Filipina, Romy yang juga pernah melatih di Pelatnas Malaysia, melihat kekuatan Indonesia jauh lebih unggul.

"Malaysia paling menonojol tunggal putra, tapi untuk tunggal putri kurang maksimal. Kalau Indonesia lebih stabil, semua sektor jauh lebih unggul dari pemain negara lain," imbuhnya.

Saat ini, Romy sedang berfokus dengan 12 pemain yang ada di akademinya. Akademi RBT Malaysia sendiri lebih fokus untuk atlet muda yang sudah siap bertanding.(ind/tin/ipg)
top