suarasurabaya.net

Gairah Pileg Lesu, Potensi Golput Tertolong Gairah Pilpres
Laporan Zumrotul Abidin | Minggu, 10 Februari 2019 | 14:45 WIB

Ilustrasi
suarasurabaya.net| Surokim Abdus Salam Peneliti Senior di Surabaya Survey Center (SSC) mengatakan, Pemilu 2019 yang digelar serentak baik Pilpres, Pileg dan DPD pada 17 April akan menyulitkan pemilih. Masyarakat akan lebih mudah mengingat dua paslon Pilpres daripada ribuan caleg yang menjadi kontestasi Pimilihan Legislatif nanti.

"Pemilu kali ini memang kompleks khususnya bagi pemilih. Apalagi daya ingat masyarakat juga terbatas, sementara yang paling mudah diingat ya hanya 2 paslon Pilpres. Kalau Pileg bisa dibayangkan 16 Partai x 10 Caleg x 3 (DPRD I, DPRD II, dan DPR RI). Banyak dan sulit mengingatnya, belum lagi ditambah DPD. Jadi, ya wajar kalau masyarakat hanya bisa mengingat Pilpres," ujarnya kepada suarasurabaya.net, Minggu (10/2/2019).

Surokim mengatakan, perilaku masyarakat dalam memilih (voting behavior) juga kian kompleks. Variabel yang dipertimbangkan tidak lagi variabel sosiologis dan psikologis, tetapi juga ekonomis rasional kian menjadi pertimbangan utama.

"Di sisi lain, pembatasan regulasi kampanye juga membuat alat peraga kampanye (APK) tak lagi massif bisa mengerakkan ekonomi kreatif masyarakat yang menjadi basis partisipasi publik, itu juga yang membuat mengapa Pileg tak bergairah," katanya.

Surokim mengatakan, peluang yang menguntungkan masih berpihak pada Caleg dari Partai-Partai pengusung utama Paslon Pilpres. Karena masih diuntungkan adanya coattile effect Paslon Pilpres. Sebaliknya, bagi caleg partai bukan pengusung utama, tentu kerap dilematis dan karena harus bekerja keras sendirian dan harus punya logistik yang besar. "Akhirnya nantinya akan banyak yang pasrah pada kehendak alam," katanya.

Meski gairah Pileg dinilai lesu, tapi Surokim berkeyakinan angka golput masih di bawah 9 persen. Namun, seiring pertumbuhan pemilih rasional yang masih undecided voters di kisaran 14 persen, maka itu bisa potensial jadi golput jika tidak ada dorongan ektra dari berbagai pihak, termasuk kreatifitas caleg dalam meyakinkan pemilih.

"Kalau pemilu tidak serentak, saya bisa kasih pendapat golput Pileg meningkat, tapi karena ini pemilu serentak, orang milih presiden jadi calegnya bisa jadi ikut dipilih," katanya.

Sementara itu, Nurul Amalia Komisioner Divisi Teknis KPU Surabaya berpendapat, sepinya gairah kampanye caleg ini karena mungkin banyak Caleg di Surabaya yang merupakan incumbent, sudah memiliki strategi sendiri untuk menghadapi Pileg tahun ini. Sebab, waktu kampanye bagi peserta Pemilu 2019 cukup panjang, mulai tanggal 23 September sampai 14 April 2019.

"Kalau caleg-caleg yang lama atau petahana, mereka sudah mengetahui strateginya. Karena pemilu ini kampanyenya panjang. Bisa jadi mereka menggenjot sosialisasi di akhir-akhir. Itu strategi masing-masing peserta," katanya.

Sekadar diketahui, jumlah caleg DPRD Surabaya sebanyak 690 orang. KPU Surabaya juga memfasilitasi baliho kampanye bersama untuk masing-masing partai politik. (bid/dwi)
top