suarasurabaya.net

Suko Widodo: Caleg Sekarang Jauh di Mata Dekat di Baliho
Laporan Agustina Suminar | Selasa, 19 Februari 2019 | 10:12 WIB

Suko Widodo Dosen Komunikasi Unair. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Pada 17 April mendatang, masyarakat Indonesia memiliki hajad besar yaitu pemilu serentak. Tidak hanya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, namun masyarakat juga memilih Calon Angota DPR, DPD dan DPRD. Namun, hingga kini masih sedikit calon pemilih yang belum menetapkan pilihan untuk tingkat calon legislatif (caleg) karena banyak yang belum mengenal profil caleg di daerah mereka.

Suko Widodo Pakar Komunikasi Politik FISIP Universitas Airlangga mengatakan, saat ini masih banyak caleg belum efektif dalam menggunakan pola komunikasi dengan masyarakat. Mereka masih menggunakan pola one way communacation sehingga masyarakat dipaksa untuk mempercayai klaim-klaim kejujuran para caleg.

"Terjadi kedangkalan komunikasi dimana seseorang dipaksa untuk percaya klaim-klaim kejujuran caleg. Padahal survey mengatakan, 65 persen pemilih menghendaki bertemu dengan kandidat, tapi itu tidak terwujud. Makanya sekarang itu caleg jauh di mata dekat di baliho," papar Suko kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (19/2/2019).

Menurutnya, sulitnya pemilih mengenal calon legislatif karena beberapa faktor. Pertama, jumlah penduduk yang jauh berbeda dengan pemilihan zaman dimana pemilih bisa menemui caleg satu per satu.

Kedua, mesin politik partai politik yang mandek, membuat komunikasi para calegnya dengan masyarakat tidak terjalin. Terlebih parpol masih banyak yang menggunakan sistem drop-dropan, dimana caleg yang mewakili suatu wilayah tertentu bukan warga asli.

Untuk itu, ia menilai harusnya parpol ikut turun ke masyarakat untuk melihat langsung apa yang sedang masyarakat alami dan butuhkan.

"Harusnya partai tiap hari jalan ke masyarakat untuk menanyakan mereka, apakah air PDAM macet, bagaimana listriknya, apakah disana ada orang sakit, tapi mereka tidak datang. Harusnya saat mereka mengaku peduli dengan rakyat, mereka membawa masalah mereka ke media-media atau ruang-ruang untuk menceritakan kondisi real disana. Kalau sekarang kan mesin parpol bukan hanya macet, tapi bisa dikatakan sudah 'rusak'," jelas dosen Ilmu Komunikasi tersebut.(tin/rst)
top