suarasurabaya.net

Di Ponpes Bumi Sholawat, Sekjen PDIP Ucapkan Terima Kasih ke Warga Nahdliyin
Laporan Zumrotul Abidin | Jumat, 18 Oktober 2019 | 18:44 WIB

Hasto Kristiyanto Sekjen PDI Perjuangan saat bersilaturahim ke Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jumat (18/10/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Hasto Kristiyanto Sekjen PDI Perjuangan bersilaturahim ke Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jumat (18/10/2019). Di pesantren asuhan KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Hasto mengucapkan terima kasih kepada para kiai dan santri atas doa serta dukungan kepada Joko Widodo dan KH Ma`ruf Amin.

"Basis pendukung Pak Jokowi dan KH Maruf Amin adalah kaum nasionalis-Soekarnois dan Nahdliyin. Maka kami ingin berterima kasih kepada kaum Nahdliyin yang bergotong-royong bersama Nasionalis-Soekarnois menjaga Indonesia Raya yang berbhinneka ini," ujar Hasto kepada Gus Ali dan ratusan santri.

"Mari kita doakan pelantikan Pak Jokowi dan Kiai Maruf, 20 Oktober nanti berjalan lancar, sekaligus keberkahan dalam memimpin Indonesia lima tahun ke depan," imbuh Hasto.

Hadir dalam acara itu KH Agoes Ali Masyhuri, Kusnadi Ketua PDIP Jatim, Sri Untari Sekretaris PDIP Jatim, Sumi Harsono Ketua PDIP Sidoarjo, Muhdlor Ali Direktur Pendidikan Bumi Sholawat.

Hasto mengatakan, melalui kiprah serta pemikiran Presiden pertama Ir Sukarno dan KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama, ditunjukkan kepada seluruh rakyat bahwa Indonesia dibangun dengan fondasi yang kokoh dari kaum nasionalis dan religius.

"Kaum nasionalis dan religius adalah satu keping mata uang, tidak akan terpisahkan," ujar Hasto.

Hasto juga menekankan pentingnya prinsip ketuhanan dan kemanusiaan dalam kehidupan keseharian, termasuk dalam kepemimpinan.

"Maka kita melihat kepemimpinan Ibu Risma di Surabaya yang menata kota, memastikan seluruh anak miskin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Itulah prinsip kemanusiaan dalam kepemimpinan yang dipandu oleh nilai-nilai ketuhanan," ujar Hasto.

Hasto juga mengaku kagum dengan kiprah KH Agoes Ali Masyhuri yang berdedikasi tinggi dalam memajukan pendidikan umat serta menjadi panutan dalam menjaga Indonesia Raya.

"KH Agoes Ali Masyhuri bukan hanya sosok alim bijaksana, tapi di dalam dirinya juga ada jiwa patriotik yang menyala-nyala mengobarkan semangat kebangsaan, semangat Indonesia Raya," ujar Hasto.

Dengan faktor historis kerja sama nasionalis dan Nahdliyin dalam mewarnai perjalanan republik ini, lanjut Hasto, ke depan bangunan kolaborasi itu harus diperkuat.

"PDI Perjuangan akan terus bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama dalam segala aspek, penguatan ekonomi umat, pemerintahan, sosial, dan sebagainya demi kemajuan Indonesia Raya," ujar Hasto.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Ponpes Bumi Shalawat Muhdlor Ali mengatakan, tidak ada kemenduaan antara menjadi santri dan menjadi nasionalis.

"Karena para santri sejak awal sudah dididik untuk mencintai republik ini, dididik dalam bingkai kebangsaan bahwa hubbul wathon minal, mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman," ujar Gus Muhdlor, sapaan akrabnya.

Gus Muhdlor mencontohkan bagaimana ketika Indonesia yang masih berusia muda dirongrong pemberontakan DI/TII, kaum santri menunjukkan komitmen nasionalismenya dengan menolak terlibat dalam pemberontakan itu. Bahkan, NU memberi gelar kepada Bung Karno sebagai waliyyul amri dharuri bi as-syaukah (kepala negara bidang kenegaraan dan keagamaan).

"Kaum santri termasuk di daerah seperti Sidoarjo ini akan terus bertekad untuk menjaga ke-Indonesiaan bersama kawan-kawan nasionalis-Soekarnois," kata Gus Muhdlor. (bid/tin/ipg)
top