suarasurabaya.net

KCBI Surabaya Goes to Campus, Tularkan Cara Memakai Kain
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 23 Agustus 2019 | 18:17 WIB

Praktik langsung penggunaan dan cara memakai kain oleh KCBI Surabaya di kampus UKWMS. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net| Kompak memakai seragam atasan berwarna merah muda dan bawahan kain beragam gaya, para perempuan dari KCBI (Komunitas Cinta Berkain Indonesia), Jumat (23/8/2019) hadir di Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) di Dinoyo. KCBI Goes to Campus.

Para mahasiswi Fakultas Vokasi UKWMS pun begitu antusias mengikuti acara, dengan sebelumnya telah mempersiapkan kain untuk praktik langsung dengan belajar dari praktisi dan pecinta kain.

"Ada berbagai macam jenis kain, ada kain batik, tenun, songket, jumputan dan masih banyak lagi. Mungkin kita tidak banyak tahu bahwa ternyata kain-kain nusantara itu tidak perlu dipotong, melainkan cukup dililit saja. Karena hal itu (memotong kain) rupanya menyayat hati kita. Dan diharapkan melalui kegiatan ini, kita bisa bangga berkain Indonesia," terang Benedicta D. Muljani, S.Sos. M. AB., Dekan Fakultas Vokasi UKWMS.

Selain memaparkan materi, KCBI Surabaya juga mempraktekkan kepada para mahasiswa cara memakai kain satu diantaranya adalah model Alibaba. Untuk model ini, sisi lebar kain cukup diikatkan ke belakang, lalu kain panjang dilewatkan melalui kedua kaki dan diikat di depan.

Tidak butuh waktu lama, cukup lima menit sudah selesai. Walaupun mirip seperti celana, namun penggunaan dengan model ini juga bisa dipakai ke pesta maupun acara-acara lainnya.

Senada dengan pernyataan Bene-sapaan Benedicta, KCBI sepakat agar jangan sampai budaya kita malah diakui Negara tetangga.

"Kita harus mempertahankan budaya kita, budaya keseharian. Memakai kain itu tidak ribet, tidak harus meriah seperti pergi ke pesta, bisa menyesuaikan dan bisa dipadukan dengan berbagai macam model pakaian. Bahkan dalam waktu tidak sampai lima menit juga sudah bisa memakai kain, rapi dan tetap bisa beraktifitas seperti biasa," jelas Windrati Wiworo Ketua KCBI Surabaya.

Dari sekian banyak kain tentu memiliki beragam nama dan filosofi seperti Sido Asih, Satrio Manah, Babon dan masih banyak lagi. Noorlailie Soewarno satu diantara anggota KCBI Surabaya membagikannya melalui materi Batik Tanda Cinta.

"Seperti kain batik Sido Asih yang berarti perlambang kehidupan manusia yang penuh kasih sayang, sedangkan Satrio Manah yang digunakan pria untuk melamar kekasih atau pujaan hatinya. Namun perlu diingat, dalam memakai kain yang memiliki motif burung, kupu-kupu, atau bunga jangan sampai njungkel (jatuh ke bawah), jadi harus tetap tegak ke atas," papar Noorlailie.

KCBI Surabaya juga mengingatkan agar dalam memakai batik, menghindari menggunakan peniti karena akan merobek kain. Dan untuk menggantikannya cukup menggunakan tali berbahan kain atau sabuk elastis.(tok/ipg)
top