suarasurabaya.net

Tak Lagi Punya Tobong, Ludruk ini Terus Berproduksi di Surabaya
Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 20 September 2019 | 14:35 WIB

Meimura pada sebuah pementasan Ludruk. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net| Kelompok ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara yang sebelumnya tampil rutin di kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, kini memang tak lagi punya pentas bermain atau tobong. Atas nama pembangunan, tobong itu dibongkar.

Tapi apakah pentas Ludruk yang mereka mainkan kemudian terhenti? Tidak. Meski tak lagi punya pentas khusus, para pemain dan pengelola kelompok Ludruk tersebut terus berproses, berlatih, dan melakonkan cerita-cerita dalam kemasan Ludruk di Surabaya.

"Kalau kami hanya bergantung pada tobong, tentu saja habis kisah perjalanan Ludruk ini. Tapi Ludruk itu sudah mendarahdaging, dan sudah kadung jadi bagian aktivitas kami sehari-hari. Anak-anak kecil, remaja dan pemuda yang ikut menghidupkan Ludruk ini tak mau berhenti. Terus berproses, terus berlatih, dan terus mencari tempat untuk tampil," terang Meimura sutradara sekaligus pengelola Irama Budaya Sinar Nusantara.

Beberapa kali, setelah gedung pertunjukan Ludruk satu-satunya di THR Surabaya dan bisa jadi satu-satunya yang ada di Kota Surabaya itu ditutup Pemerintah Kota Surabaya, tawaran tampil masih berdatangan. Artinya kesenian Ludruk masih disaksikan masyarakat meski tidak semasiv dulu.

"Tetapi demi kebijakan perkembangan kota atau apalah alasannya, kami tak lagi punya tempat untuk latihan, untuk saling berdiskusi mempersiapkan lakon-lakon baru. Padahal Ludruk dalam sejarahnya lahir dan bertumbuh juga di Kota Surabaya ini. Tapi justru Ludruk seolah mati dan sirna di kotanya sendiri. Kami harus tetap hadir dan main Ludruk," kata Meimura.

Yang terakhir, lanjut Meimura, kelompok Ludruk Irama Budaya Nusantara tampil di perkampungan kawasan Waru untuk menghibur masyarakat di pinggiran Kota Surabaya berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 tahun.

Meimura melihat bahwa Ludruk memberikan banyak hal bagi masyarakat. Tidak hanya hiburan semata. Banyak pesan tentang hal-hal positif bisa disisipkan pada setiap pagelaran-pagelaran seni tradisonal kerakyatan ini.

Pun demikian, Ludruk bisa digunakan remaja dan anak-anak muda menyalurkan kegemarannya berkesenian. "Karena dalam setiap pementasan Ludruk, ada Tari, ada Lawak, selain cerita atau lakon Ludruk itu sendiri. Ini bisa jadi sarana aktualisasi anak-anak milenial kan?" ujar Meimura.

Sampai saat ini, anggota Irama Budaya Sinar Nusantara masih terus berproses, berlatih, dan yang pasti terus mencari tempat untuk bermain. "Kami terus berproses. Kami juga terus mencari tempat untuk bisa tampil, di manapun," pungkas Meimura, Jumat (20/9/2019).(tok/ipg)
top